— jenis tulisan —
Puisi (45)
Enam puisi tentang Tangerang yang ditulis pelan, dengan setting nyata. Cisadane, BSD, Karawaci, Pasar Lama, tol Jakarta-Merak. Setiap tempat punya bobotnya sendiri.
Pemuda Ojek Pangkalan Jatiuwung — Bersaing dengan Ojol, Setia dengan Pangkalan
Aku muda tapi mangkal di pangkalan, di zaman semua orang tinggal buka aplikasi.
Embun Pagi Curug
Rumput basah, kabut tipis di sawah terakhir, dan kampung yang masih ingat dingin sebelum panas.
Pohon Mahoni di Boulevard BSD
Deretan mahoni yang ditanam developer, dan akar yang lebih sabar dari pembelinya.
Tukang Bangunan di Proyek Alam Sutera — Matahari Terik dan Rindu Kampung
Aku bangun kota orang di bawah matahari yang tidak kenal ampun, sambil rindu rumah yang jauh di seberang laut.
Sungai Cisadane Pagi
Kabut tipis, burung kuntul, dan sungai yang masih menjalankan tugasnya sebelum dunia bangun.
Freelance Laptop di Cisadane
Kafe pinggir sungai, WiFi tiga garis, dan klien yang membayar dalam mata uang lain.
Magang Startup BSD
Gaji 1.5 juta, kos di Cisauk, dan portofolio yang dibangun lebih cepat dari tabungan.
Penjahit Keliling Perumahan BSD — Sepeda, Mesin Jahit, dan Ibu-Ibu Kompleks
Aku bawa mesin jahit keliling kompleks, dan pekerjaanku sesederhana memendekkan celana orang.
Kuli Proyek Alam Sutera
Mereka membangun apartemen yang tidak akan mereka tempati, dengan tangan yang bertambah keras setiap minggu.
Lembur Summarecon Lantai 18
Pukul sebelas malam, lampu kantor masih nyala, dan kota di bawahnya sudah pulang lebih dulu.
Warung Bakso Bu Nani di Curug — Ketemu Pembeli Lewat Google Maps
Warungku kecil di gang, tapi orang bisa menemukannya dari genggaman tangan.
Surat Tangan dari Gading Serpong
Amplop putih di laci, tinta yang memudar, dan janji yang tidak ikut pindah rumah.
Pacaran di Tepi Cisadane
Motor diparkir di pinggir tanggul, dua sosok diam, dan sungai yang tidak ikut campur.
Sopir Bus Transjabodetabek Shift Pagi — Sebelum Kota Bangun
Aku sudah di jalan sebelum kota ini memutuskan untuk bangun.
Kemarau di Cisoka
Tanah retak, sumur dalam, dan kesabaran kampung yang lebih tua dari musim.
Waktu di BSD
Jam di QBig, kalender Notion, dan minggu yang habis sebelum kita sempat mengingatnya.
Cisadane Mengalir Pelan
Sungai yang tidak terburu-buru, bendungan yang menua, dan waktu yang tidak punya ukuran.
Pohon Ketapang Pinggir Jalan Serpong
Akarnya sudah lama memutuskan bahwa aspal bukan urusan mereka.
Meditasi di JORR
Macet sebagai latihan, lampu rem yang menyala dan padam, dan pernapasan yang tidak diburu siapa pun.
Mahasiswa Baru UMT
Ospek di kampus UMT, jaket merah, dan rasa asing pertama yang belum mereka tahu namanya.
Tukang Becak Tigaraksa
Becak yang masih bertahan di antara ojol, dan profesi yang menua dengan sopan.
Anak Rantau Tangsel
Empat tahun cukup lama untuk berhenti menyebut ini sementara.
Anak SMA Cisoka Pulang Sore
Seragam putih abu di angkot 06, tas berat, dan mimpi yang masih belum diberi nama.
Ibu PKK Citra Raya
Rapat di balai warga, kerupuk merah, dan kekompakan yang lebih tua dari kompleksnya.
Tongkrongan Kopi BSD
Kafe ketiga gelombang, percakapan tentang AI, dan generasi yang belajar diam dari latte art.
Puisi Buruh Perempuan Pabrik Cikupa — Mbok Titi, Shift Malam
Puisi buruh perempuan Cikupa: Mbok Titi melipat karton di pabrik Kawasan Industri Kabupaten Tangerang setiap malam, sementara jarinya tidak bisa ditekuk dan pemeriksaan dokter terus ditunda.
TikTok Debat Caleg di Pamulang
Potongan debat 22 detik, musik trending, dan kebenaran yang kalah cepat dengan algoritma.
Wawancara Radio Tigaraksa
Pertanyaan dibacakan dari kertas, jawaban yang sudah disiapkan, dan demokrasi yang tidak mendengar.
Reels Politik di Summarecon
Crew video di lobby mall, lampu LED, dan demokrasi yang harus muat dalam 30 detik.
Baliho Rusak di Pamulang
Wajah yang sobek karena angin, dan janji yang sobek karena tidak ada yang menjaganya.
Caleg Pamer Instagram BSD
Reels caleg di kafe specialty, kopi V60, dan citra yang lebih rapi dari trotoar Cikokol.
Pasar Cipondoh Pagi
Pukul lima pagi di Pasar Cipondoh — pikulan sayur masuk lebih dulu daripada matahari, dan harga ditetapkan sebelum ada yang menawar.
Demo di Pintu Tol Karawaci
Buruh yang berhenti, kendaraan yang berhenti, dan sebuah negara yang lupa kapan berhenti.
Tol Merak Hari Kerja
Tol Merak hari Senin tidak macet seperti Jakarta-Cikampek. Sepi. Tapi setiap kendaraan yang lewat membawa cerita yang kita tidak akan pernah tahu.
Hujan di Bintaro
Hujan sore di Bintaro Sektor 7. Tukang bakso berhenti di bawah pohon. Anak SD pulang sekolah dengan plastik di kepala. Bukan keluhan, bukan romansa.
Kampanye di Trotoar Cikokol
Sound system di trotoar, anak-anak yang menari karena musiknya, bukan karena janjinya.
Ciputat Jam Lima Sore
Ciputat jam lima sore — mahasiswa UIN pulang, pekerja Bintaro pulang, pasar tradisional buka lagi setelah jeda siang. Tiga arus yang bertemu di satu pertigaan.
Anyer Bukan Wisata
Anyer untuk turis adalah pantai. Anyer untuk nelayan adalah pekerjaan. Anyer untuk yang lahir di sini adalah rumah yang setiap tahun berubah karena pembangunan.
Stasiun Tigaraksa Malam
Stasiun Tigaraksa pukul sebelas malam — peron satu, kereta terakhir ke Maja, tukang bakso di luar stasiun yang sudah hafal jadwal.
Cisadane Sore Hari
Sungai yang lebih tua dari kota ini — yang sudah hafal kapan jembatan dibangun dan kapan dirobohkan lagi.
Tol Jakarta-Merak, Hari Senin
Empat puluh kilometer yang ditempuh dalam tiga jam, dan kami semua memilih diam.
Karawaci, Pukul Tiga Pagi
Kota yang tidak pernah tidur, tetapi pukul tiga pagi terlihat seperti foto yang dibekukan.
Hujan di Gading Serpong
Hujan datang, mall yang biasa lengang tiba-tiba penuh — kota yang ternyata selalu butuh atap.
Pasar Lama Tangerang
Klenteng Boen Tek Bio, Cina Benteng, dan kota yang lahir tiga ratus tahun sebelum BSD.
BSD Malam Minggu
Kafe di BSD, pemuda yang ngobrol tentang startup di Jakarta, dan mimpi yang ngantri di tol.