Cisoka · 1 Juli 2026
Kemarau di Cisoka
Bulan Agustus di Cisoka, matahari datang dari arah Cisauk dan tidak pulang sampai sore, tanah merahnya retak, debu naik ke daun singkong, sumur-sumur terdengar lebih dalam saat ember ditarik.
Bibi saya di kampung mengisi gentong sejak subuh, satu per satu, membawa dari pancuran yang masih sedikit menetes di belakang masjid.
Anak-anak SD pulang sekolah membawa botol air mineral kosong, matanya sayu, seragamnya basah, tapi tidak ada yang menangis — mereka sudah hapal kapan boleh mandi dan kapan harus tahan.
Para petani duduk di saung, bukan karena malas, tapi karena tanah belum mau diolah, tunggu hujan dulu, kata Pak Sukro, tunggu hujan dulu.
Dan mereka menunggu, seperti yang sudah diajarkan bapak mereka, seperti yang akan mereka ajarkan ke anak-anaknya nanti.
Kemarau di Cisoka bukan musibah, bukan kesempatan, ia hanya bagian dari nama tahun, seperti hujan, seperti malam, seperti waktu makan.
Kampung ini sudah belajar hidup di antara musim tanpa harus melawannya.
Mungkin itu sebabnya mereka bertahan lebih lama dari kota.
Tanah retak, sumur dalam, dan kesabaran kampung yang lebih tua dari musim.
— ditulis dari Cisoka
oleh Sekar Wulandari