Gading Serpong · 7 Juli 2026
Surat Tangan dari Gading Serpong
Saya bersih-bersih lemari di rumah lama Gading Serpong, yang akan dijual bulan depan, dan menemukan amplop putih di laci atas, dilipat empat, sudah berwarna gading karena waktu.
Tulisan tangan suami saya, ditulis tahun 96, ketika kami masih pacaran, ketika dia masih kuliah di UMN, ketika Gading Serpong baru beberapa cluster awal, masih banyak sawah di belakangnya.
Surat itu tidak panjang, tidak puitis, hanya kabar bahwa dia sudah pulang dari pabriknya di Cikupa, bahwa motor butut Honda Astrea-nya mogok di pertigaan Karawaci, bahwa dia rindu saya tapi tidak punya pulsa.
Saya membacanya sekali lagi, duduk di lantai kamar tidur lama, matahari masuk dari jendela yang juga akan dilepas pasarkan.
Suami saya sekarang sudah dua puluh tahun lebih tidak menulis tangan, semua pesannya WhatsApp, semua janjinya kalender, semua I love you-nya emoji.
Tapi surat ini tidak ikut menua bersama kami — tintanya memudar, kertasnya menguning, tapi yang ditulisnya masih sama persis.
Mungkin itulah keajaiban tulisan tangan — ia memutuskan untuk berhenti di satu titik waktu, dan menolak ikut pindah ke rumah baru.
Saya lipat lagi, masukkan ke tas saya, bawa ke cluster baru di Alam Sutera — satu-satunya barang yang saya tidak biarkan ditawar oleh pembeli rumah.
Amplop putih di laci, tinta yang memudar, dan janji yang tidak ikut pindah rumah.
— ditulis dari Gading Serpong
oleh Sekar Wulandari