— jenis tulisan —
Kutipan (36)
Lima kalimat pendek yang lahir dari pengamatan harian. Bukan motivational — lebih ke pengingat tentang apa yang sering tidak dilihat oleh yang lewat.
Cuaca Ekstrim di Cibodas
Angin barat datang dari Cisoka, atap-atap bergoyang, dan kampung yang tidak punya BMKG sendiri.
Tanah Merah Cikupa Sebelum Hujan
Debu turun pelan, tanah memerah lebih dalam, dan langit menunggu izin.
Ojol Tigaraksa Tengah Malam
Order terakhir pukul satu — dia mengantar nasi goreng untuk orang yang juga sedang lembur.
Cleaning Service AEON
Lantai dipel sebelum pintu dibuka — yang mengkilap diakui mall, yang lelah disimpan pribadi.
Driver Pulang dari Jakarta
Lampu sein kanan menyala dua jam, dan dia ingat istrinya juga sedang menyalakan lampu teras.
LDR BSD-Jakarta
Empat puluh kilometer saja, tapi tol JORR sanggup membuatnya terasa beda kota.
Wedding di Cilenggang
Pengantin tua menikahkan anaknya — yang menua bukan janjinya, hanya tangannya.
Pertemuan di Stasiun Tigaraksa
Dia turun dari KRL terakhir, saya naik motor menjemput — kami tidak banyak bicara.
Cinta di Warung Karawaci
Dua piring nasi, satu air mineral dibagi dua — yang dihemat bukan uang.
Malam Cikokol Sebelum Hujan
Bau ozon di trotoar, lampu kuning, dan kota yang menahan napas sebentar.
Langit Bintaro Pagi
Pukul lima empat puluh, awan tipis di atas Sektor 7, dan jeda yang belum dimiliki siapa pun.
Sawah Curug yang Tersisa
Petak terakhir di antara gudang, padi yang menua tanpa pewaris.
Hujan di Belakang Bintaro
Hujan datang dari arah Pondok Aren, jatuh di kompleks, dan tidak bertanya kepada siapa.
Tetangga Baru di Bintaro
Pindahan jam tiga sore, mobil boks, dan senyum kecil yang tidak menjanjikan apa-apa.
Nikahan di Cilenggang
Tenda biru, tetangga yang datang tanpa undangan, dan kebahagiaan yang tidak butuh hashtag.
Pedagang Pasar Cikupa
Subuh dia sudah berdiri, sore dia masih berdiri — yang berganti hanya wajah pembeli.
Driver Ojol Cikupa
Dia menunggu order di pos, bukan istirahat — istirahat sudah lama tidak gratis.
Janji Jalan Batu Tigaraksa
Lima kali kampanye, jalan itu masih batu — yang berubah hanya nama partai di baliho.
Kampung Juara di Bintaro
Plang baru dipasang, lampunya menyala dua minggu, sisanya kami sendiri yang menerangi.
Saksi TPS Rajeg Subuh
Mereka menjaga kotak, bukan suara — yang menjaga suara sudah pulang lebih dulu.
Pemilu di Pasar Anyar
Pedagang sayur masih timbang seperti biasa — pemilu boleh ramai, kentang tetap harus dihitung.
Spanduk Sepanjang Tol Merak
Lima puluh kilometer wajah, dan tidak satu pun yang menatap kami balik.
Ondel-Ondel Partai di Cisauk
Ondel-ondel dipinjam, warnanya diganti, tapi tariannya tetap milik kampung.
Survei Pintu Curug
Yang mereka tanya bukan apa yang kami butuh, tapi siapa yang akan kami pilih.
Baliho Caleg di Pintu Tol BSD
Wajah-wajah yang tersenyum di atas, tapi yang menunggu kami di gardu adalah palang.
Tangerang Bukan Jakarta
Tangerang bukan Jakarta. Bukan pengganti, bukan tetangga, bukan kerabat — Tangerang adalah dirinya sendiri.
Sungai Mengingat
Yang ingin tahu sejarah kota, ikuti sungainya. Sungai selalu mengingat lebih banyak daripada gedung.
Hujan Tidak Pilih Orang
Di Tangerang yang banjir, hujan tidak pilih orang. Yang punya garasi dan yang tidur di gang sama-sama basah.
Macet sebagai Pengingat
Macet adalah pengingat bahwa kita tidak sepenting yang kita kira. Kota tidak menunggu kita.
Pasar Lama vs Mall
Pasar Lama tidak harus seperti mall untuk tetap penting. Mall berusaha jadi pasar lama. Tidak pernah sebaliknya.
Kota Tempat Lahir
Kota tempat lahir tidak harus indah untuk dicintai. Cukup tahu di mana yang pernah jadi kebun karet, dan cukup.
Bukan Pusat Satu-satunya
Yang menulis sejarah kota ini bukan hanya gedung di Jakarta.
Cisadane Mengajari Sabar
Sungai tidak pernah terburu-buru, tetapi selalu sampai.
Demokrasi di Tol Merak
Semua sama-sama miskin waktu — satu-satunya bentuk demokrasi yang masih tersisa.
BSD dan Karawaci
BSD adalah etalase. Karawaci adalah lemari.
Mulai dari Pasar Lama
Yang ingin tahu kota ini, mulailah dari Pasar Lama — bukan dari mall.