Serpong, Tangerang Selatan · 27 Juni 2026
Pohon Ketapang Pinggir Jalan Serpong
Pohon itu tidak minta izin ketika akarnya memutuskan bahwa aspal bukan urusan mereka.
Sekarang ada retakan sepanjang dua puluh senti persis di bawah batang paling tua — retakan yang dibiarkan, karena tidak ada yang mau berargumen dengan sesuatu yang sudah ada sebelum jalan ini dibangun.
Di bawahnya sore ini, dua ojol duduk menghadap handphone masing-masing. Satu menunggu orderan yang belum datang. Satu lagi menunggu orderan yang sudah dibatalkan dan belum tahu cara mulai dari mana.
Ketapang tidak bertanya mereka dari mana atau mau ke mana. Ia hanya menggeser bayangannya perlahan mengikuti matahari yang turun ke barat, seperti yang selalu dilakukannya.
Ruko di sebelah kanannya baru berumur tiga tahun. Cat temboknya sudah mulai retak di bagian bawah yang kena air hujan. Papan nama bengkel motor pernah ada di sana, sekarang toko sembako, mungkin bulan depan yang lain.
Pohon itu tidak mencatat pergantian ini. Ia sedang sibuk menjatuhkan daun.
Juni. Beberapa daun tua merah kecoklatan sudah mulai terlepas satu per satu, jatuh ke trotoar yang sempit, ke motor yang parkir sembarangan, ke kepala ojol yang tidak bergerak dari posisinya sejak tadi.
Tidak ada yang dramatis dari cara ketapang menggugurkan daun. Ia tidak sekaligus. Ia tidak membuat pengumuman. Ia hanya melepas yang memang sudah waktunya dilepas.
Akarnya sudah melewati batas kavling jauh ke bawah tanah, mungkin sampai ke bawah drainase yang setengahnya tersumbat. Tidak ada yang tahu seberapa jauh pohon ini sudah bergerak ke bawah sementara di atasnya kota terus membangun ke atas.
Sore menguning. Bayangan ketapang memanjang ke timur, jatuh ke aspal yang masih menyimpan panas siang.
Ojol pertama akhirnya dapat orderan — ia menyalakan motor, bergerak, menghilang ke arah perumahan.
Ojol kedua masih di sana.
Pohon itu tidak memperhatikan siapa yang pergi dan siapa yang tinggal. Ia sedang merasakan angin dari arah Cisauk yang membawa sedikit dingin untuk pertama kalinya hari ini.
Di sini sudah lama. Akan di sini lebih lama lagi.
Kota boleh tergesa. Pohon ini tidak ikut-ikutan.
Akarnya sudah lama memutuskan bahwa aspal bukan urusan mereka.
— ditulis dari Serpong, Tangerang Selatan
oleh Sekar Wulandari