BSD City · 18 Juli 2026
Pohon Mahoni di Boulevard BSD
Di sepanjang Boulevard BSD, mahoni-mahoni berbaris, ditanam developer saat kota ini masih bernama “BSD City Marketing Office”, saat brosurnya masih foto sawah dan janji metropolis.
Sekarang pohon itu sudah besar, batangnya cukup tebal untuk dipeluk dua tangan, daunnya rindang menutup separuh jalan, akarnya menjalar ke bawah trotoar, sesekali mengangkat paving block seperti tanda bahwa mereka pun ingin punya ruang.
Truk pemkot datang sesekali, memotong dahan yang menjuntai, membersihkan daun yang gugur, membuat tampilan tetap rapi sesuai standar developer.
Tapi pohon tidak protes, mereka hanya tumbuh, diam-diam, satu sentimeter setiap musim, tanpa peduli berapa kali nama jalan ini berubah, berapa kali developer-nya mengganti CEO, berapa kali harga rumah di sekitarnya naik tanpa alasan jelas.
Saya melewati boulevard ini setiap pagi naik motor ke kantor di QBig, dan setiap kali saya melihat mahoni-mahoni itu, saya tahu bahwa yang permanen di sini bukan apartemen 30 lantai, bukan mall yang baru dibangun, bukan iklan billboard yang berganti tiap kuartal.
Yang permanen di BSD adalah akar yang tidak terlihat, yang sudah lebih lama tumbuh daripada cluster mana pun di sini.
Mungkin itu sebabnya saya betah tinggal — karena ada yang tidak peduli pada kuartal, pada IPO, pada tren real estate.
Pohon mahoni tidak pernah pindah. Itulah satu-satunya hal yang menetap.
Deretan mahoni yang ditanam developer, dan akar yang lebih sabar dari pembelinya.
— ditulis dari BSD City
oleh Sekar Wulandari