Cikokol · 2 Juni 2026
Kampanye di Trotoar Cikokol
Sound system besar di trotoar Cikokol, kabel-kabelnya menjulur ke warung, ke colokan ibu penjual gorengan yang menumpang listrik ke pesta yang tidak pernah dia undang.
Caleg itu naik panggung kayu, mengangkat tangan tinggi-tinggi, suaranya pecah di speaker tua, janji-janjinya pecah lebih cepat lagi sebelum sampai ke baris belakang.
Anak-anak menari di depan panggung, mereka tidak peduli siapa yang bicara, mereka hanya suka musiknya, suka dangdutnya, suka koplo-nya yang menggetarkan dada.
Ibu-ibu menerima nasi kotak, menyimpannya di tas kresek, membawanya pulang untuk dimakan bersama suami yang baru pulang ojek.
Setelah panggung dibongkar, yang tersisa di trotoar Cikokol hanya bungkus permen, brosur basah, dan jejak kaki yang akan dihapus hujan sebelum subuh.
Kampanye di kota ini selalu sehari saja, tapi kemiskinan tetap setiap hari, dan trotoar tetap kembali menjadi milik gorengan, seperti seharusnya.
Sound system di trotoar, anak-anak yang menari karena musiknya, bukan karena janjinya.
— ditulis dari Cikokol
oleh Sekar Wulandari