Alam Sutera, Tangerang Selatan · 17 Juli 2026
Tukang Bangunan di Proyek Alam Sutera — Matahari Terik dan Rindu Kampung
Subuh belum benar-benar hilang waktu aku sudah pakai sepatu bot, helm kuning yang catnya sudah kusam, dan kaus yang tadi malam belum betul-betul kering di tali jemuran bedeng.
Di sini, di Alam Sutera, langit masih abu tapi crane sudah bangun lebih dulu dariku, menjulang seperti tangan besi yang tidak pernah minta istirahat.
Mandor menghitung kepala, membagi kerja dengan suara serak, “Yang di lantai lima lanjut cor, yang bawah ikat besi dulu.” Aku angguk saja. Perintah pagi tidak perlu dibantah, tubuh sudah hafal jalannya.
Matahari naik pelan tapi galaknya cepat sekali. Menjelang siang, besi yang kupegang panas seperti bara, keringat menetes dari dagu jatuh ke cor yang belum kering, menyatu dengan bangunan ini tanpa ada yang tahu.
Orang bilang kota ini sejuk, banyak pohon, banyak taman. Tapi di atas dak beton, di bawah matahari tanpa naungan, tidak ada sejuk yang sampai ke punggungku. Cuma panas, dan bayangan diriku sendiri yang mengecil di kakiku saat tengah hari.
Siang aku turun, duduk di kolong bangunan yang belum jadi, buka rantang nasi lauk tempe dan sedikit sambal, minum air dari galon bersama-sama dengan Pak Sarno dari Brebes, dengan Udin dari Madura, dengan anak muda dari Lombok yang baru sebulan merantau dan masih sering melamun.
Kami tidak banyak bicara. Capek membuat mulut irit. Tapi kalau ada yang cerita soal kampung, semua ikut mendengar, seolah lewat cerita orang lain kami sedang pulang sebentar.
Aku dibayar harian. Satu hari kerja, satu hari upah. Kalau hujan seharian, kalau badan sakit tak bisa naik, hari itu kosong, dan kosong tidak bisa dikirim ke rumah.
Maka aku datang tiap hari, selama tangan masih bisa mengangkat, selama kaki masih bisa memanjat steger, karena di seberang sana ada yang menunggu — istri yang menghitung kiriman, anak yang masuk sekolah, emak yang tidak pernah tahu sepanas apa kerjaku di sini.
Kadang di sore hari, sebelum peluit tanda berhenti, aku berdiri sebentar di tepi lantai atas, melihat kota terbentang: jalan lebar yang rapi, gedung-gedung berkilau kena matahari senja, rumah-rumah bagus berbaris yang tidak satu pun akan jadi milikku.
Anehnya, aku tidak iri. Ada rasa lain yang lebih besar — bangga, mungkin itu namanya. Karena tembok itu aku yang plester, tiang itu aku yang ikat besinya, lantai tempat orang nanti berjalan pernah basah oleh keringatku.
Aku bangun rumah untuk orang, sementara rumahku sendiri jauh di kampung sana, menunggu diperbaiki gentengnya kalau kiriman cukup bulan ini.
Aneh rasanya jadi tukang: paling paham cara membuat rumah, tapi paling lama tidak pulang ke rumah.
Peluit berbunyi. Matahari mulai turun, memberi warna jingga ke bangunan yang belum selesai. Aku lepas helm, usap wajah dengan lengan, turun tangga satu per satu dengan lutut yang mulai mengeluh.
Malam nanti di bedeng, aku rebahkan badan di atas triplek, mendengar suara proyek sebelah yang masih bekerja, dan pikiranku melayang pulang — ke suara azan di kampung, ke kopi buatan istri, ke tawa anak yang belum sempat kudengar hari ini.
Besok aku bangun lagi, naik lagi, panas lagi. Tapi tidak apa-apa.
Kota ini tumbuh sedikit demi sedikit dari tangan-tangan seperti tanganku, dan walau tidak ada namaku di dinding mana pun, aku tahu satu hal yang tidak bisa dibantah siapa-siapa: aku pernah ada di sini, aku ikut membangunnya, dan itu sudah cukup untuk kubawa pulang selain lelah dan upah hari ini.
— Sekar Wulandari
Ditulis berdasarkan percakapan dengan seorang tukang bangunan harian yang bekerja di salah satu proyek kawasan Alam Sutera, Tangerang Selatan.
Aku bangun kota orang di bawah matahari yang tidak kenal ampun, sambil rindu rumah yang jauh di seberang laut.
— ditulis dari Alam Sutera, Tangerang Selatan
oleh Sekar Wulandari