Tigaraksa · 11 Juni 2026
Wawancara Radio Tigaraksa
Studio radio kecil di Tigaraksa, acara talk show pukul tujuh pagi, penyiarnya membuka segmen dengan suara yang sudah diatur sepuluh oktaf lebih ramah dari aslinya.
Tamu hari itu seorang caleg, duduk di kursi merah pudar, microphone tua menggantung, secangkir kopi sachet yang tidak diminum.
Pertanyaan pertama dibacakan dari kertas, dan jawabannya juga dari kertas, dari tim sukses yang menulis semalam di hotel pinggir Balaraja.
Di luar studio, sopir angkot mendengarkan radio itu sambil mengisi solar, manggut-manggut sebentar, lalu pindah ke gelombang dangdut sebelum jawaban kedua selesai.
Saya berpikir, mungkin demokrasi selalu seperti ini — ada yang bertanya, ada yang menjawab, dan ada yang sebenarnya didengar sedang menyetir ke arah yang berbeda sama sekali.
Pertanyaan dibacakan dari kertas, jawaban yang sudah disiapkan, dan demokrasi yang tidak mendengar.
— ditulis dari Tigaraksa
oleh Sekar Wulandari