Cisadane · 27 Juni 2026
Cisadane Mengalir Pelan
Saya duduk di tanggul Cisadane dekat bendungan Pintu Air Sepuluh, sore hari, matahari mulai miring ke arah Curug.
Airnya mengalir pelan, coklat, keruh, membawa daun pisang, kantong plastik bekas mi, dan sesekali sandal jepit yang entah dari mana.
Tapi sungainya tidak terburu-buru. Ia tidak peduli bahwa Tangerang sekarang macet, bahwa BSD sudah penuh apartemen, bahwa pemilu sebentar lagi, bahwa harga beras naik.
Ia hanya mengalir, seperti yang sudah ribuan tahun ia lakukan, sebelum ada nama Tangerang, sebelum ada nama Banten, sebelum ada nama Indonesia.
Bendungannya menua, betonnya retak di beberapa tempat, besinya berkarat, tapi airnya tetap muda — itulah keanehan sungai, ia tidak ikut menua bersama yang dibangun untuk mengaturnya.
Saya pikir mungkin yang harus saya pelajari bukan cara mengejar waktu, tapi cara membiarkan waktu lewat seperti Cisadane — tanpa pamit, tanpa permintaan, tanpa pernah berhenti walaupun pelan.
Sungai yang tidak terburu-buru, bendungan yang menua, dan waktu yang tidak punya ukuran.
— ditulis dari Cisadane
oleh Sekar Wulandari