Tol JORR · 25 Juni 2026
Meditasi di JORR
Pukul lima sore di tol JORR arah Pondok Aren, mobil saya berjalan satu meter setiap dua menit, dan saya berhenti melihat jam.
Di depan saya sebuah Avanza putih, plat B angka empat, lampu remnya menyala dan padam, menyala dan padam, seperti detak jantung yang lambat.
Saya buka jendela sedikit, udara Jakarta-Tangerang masuk, bau aspal, bau gorengan dari kios di bawah jembatan, bau hujan yang belum jadi.
Tidak ada yang bisa saya lakukan, tidak ada yang harus saya lakukan, itulah pertama kalinya hari itu saya tidak punya pekerjaan.
Saya pejamkan mata dua menit, ditemani klakson sesekali, ditemani podcast tentang produktivitas yang sudah lama tidak relevan dengan kondisi sekarang.
JORR mengajari saya bahwa tidak semua kemacetan adalah hukuman. Sebagian adalah jeda yang kota ini berikan tanpa kita pernah pesan.
Dan jeda yang tidak diminta biasanya yang paling jujur.
Macet sebagai latihan, lampu rem yang menyala dan padam, dan pernapasan yang tidak diburu siapa pun.
— ditulis dari Tol JORR
oleh Sekar Wulandari