kutipan tangerang — puisi & refleksi —

← kembali

Puisi

Cisadane · 16 Juli 2026

Sungai Cisadane Pagi

Pukul lima lima belas di tanggul Cisadane, arah Karawaci, kabut tipis masih menggantung di permukaan air, seperti selimut yang lupa diangkat.

Burung kuntul putih berdiri tunggal di kerikil dangkal, matanya tajam, kakinya tidak bergerak, ia menunggu ikan kecil dengan kesabaran yang manusia lupa miliki.

Air mengalir pelan, membawa daun bambu dari hulu Bogor, membawa endapan tanah, membawa cerita-cerita yang tidak diceritakan ulang oleh berita.

Beberapa nelayan kecil naik perahu kayu, jaring dilempar, ditarik, hampir kosong, tapi mereka tetap melempar lagi, karena itulah yang mereka tahu sejak bapaknya mengajari.

Belum ada motor di jalan tanggul, belum ada pelari pagi BSD, belum ada turis lokal yang memotret untuk Instagram, hanya saya, sungainya, dan burung kuntul itu.

Cisadane sudah bekerja sejak sebelum subuh, mengalir tanpa perlu diingatkan, tanpa perlu diapresiasi, tanpa perlu ditanya apakah dia sudah istirahat cukup.

Mungkin itulah yang membedakan sungai dari manusia — ia tidak memerlukan satu pun pertanyaan.

Kabut tipis, burung kuntul, dan sungai yang masih menjalankan tugasnya sebelum dunia bangun.

— ditulis dari Cisadane

oleh Sekar Wulandari

← Semua puisi Lihat kutipan