Cisadane · 5 Juli 2026
Pacaran di Tepi Cisadane
Pukul setengah enam sore, tanggul Cisadane dekat Sangiang, dua motor matic diparkir miring, helm digantung di spion, dua sosok duduk di atas terpal biru yang dibawa dari rumah.
Yang laki-laki dari Karawaci, yang perempuan dari Cikupa, mereka ketemu di sini setiap Selasa dan Kamis sore, sebelum dia harus pulang masak untuk adik-adiknya, sebelum dia harus pulang membantu bapaknya di bengkel.
Mereka tidak banyak bicara, hanya saling sentuh tangan, saling berbagi camilan yang dibeli di Indomaret pinggir tol, sambil melihat air mengalir ke arah Tanjung Burung.
Sungai itu tidak ikut campur, ia tidak men-tag mereka, tidak memotret mereka, tidak menyebarkan ke siapa pun.
Itulah satu-satunya tempat yang masih milik mereka di kota yang semuanya sudah punya CCTV.
Saat hampir adzan magrib, mereka beres-beres, lipat terpal, naik motor, ke arah yang berlawanan — dan Cisadane masih mengalir seperti tidak terjadi apa-apa.
Mungkin itulah cinta yang paling tenang — yang tidak butuh dilihat oleh siapa pun, selain sungai yang sudah belajar menjaga rahasia selama ribuan tahun.
Motor diparkir di pinggir tanggul, dua sosok diam, dan sungai yang tidak ikut campur.
— ditulis dari Cisadane
oleh Sekar Wulandari