Alam Sutera · 11 Juli 2026
Kuli Proyek Alam Sutera
Pagi di proyek Alam Sutera, helm kuning sudah berbaris, mandor membagikan job description dengan suara seperti pengeras toa yang sudah rusak speaker-nya.
Pak Karim dari Tegal, Pak Wahyu dari Pemalang, Pak Sutar dari Lombok, semua jauh dari rumah, semua tidur di bedeng plastik di sebelah crane besar yang malam hari masih bekerja.
Mereka membangun apartemen yang harga satu unitnya adalah gaji mereka selama dua puluh tahun, tidak makan, tidak minum, tidak mengirim uang ke kampung.
Tangan mereka mengeras setiap minggu, kapalan baru di atas kapalan lama, kuku jari bengkok karena palu, punggung membungkuk karena semen, tapi mereka tetap datang setiap subuh, sarapan nasi uduk seharga sepuluh ribu, naik tangga proyek, mengikat besi, menuang cor, sampai matahari terlalu tinggi untuk dilanjutkan.
Di lantai 12 yang sudah jadi, mereka kadang berdiri sebentar, melihat ke arah Cikupa, ke arah Pamulang, ke arah kampung-kampung yang mereka tinggalkan, dan tahu bahwa setelah ini selesai mereka akan pindah ke proyek lain, di Karawaci, di Gading Serpong, di mana saja yang masih butuh tangan.
Apartemen ini akan jadi rumah bagi keluarga yang punya KPR, yang akan punya pemandangan dari lantai 12 yang dibangun Pak Karim, Pak Wahyu, Pak Sutar, tanpa pernah tahu nama mereka.
Mereka membangun apartemen yang tidak akan mereka tempati, dengan tangan yang bertambah keras setiap minggu.
— ditulis dari Alam Sutera
oleh Sekar Wulandari