kutipan tangerang — puisi & refleksi —

← kembali

Puisi

BSD, Tangerang Selatan · 12 Juli 2026

Penjahit Keliling Perumahan BSD — Sepeda, Mesin Jahit, dan Ibu-Ibu Kompleks

Aku berangkat jam tujuh, sebelum matahari BSD jadi galak, sepeda tua kukayuh pelan dengan mesin jahit portable terikat rapi di boncengan belakang, dibungkus terpal biru yang sudah pudar warnanya.

Orang lihat aku lewat, mungkin cuma bapak-bapak dengan sepeda dan kotak hitam. Tapi di kotak hitam itu ada nafkah tiga orang di rumah.

Aku masuk cluster satu per satu. Satpam sudah hafal wajahku, membuka portal tanpa banyak tanya, “Vermak, Pak?” Aku angguk, senyum, lewat.

Jalanan kompleks bersih, rumah-rumah berpagar rapi, tapi di balik pagar itu selalu ada celana kepanjangan, baju yang kekecilan sejak lebaran, ritsleting rok yang macet tepat di pagi yang buru-buru.

Bu Sari yang pertama memanggil. Beliau keluar dengan setumpuk seragam anak, “Ini dipendekin ya Pak, cepat naiknya.” Aku duduk di teras, buka mesin, colok listrik dari luar, dan mulai kerja di bawah kanopi.

Anak-anak kadang mengintip dari balik jendela, takjub melihat jarum turun naik lebih cepat dari yang mereka kira. Aku biarkan. Dulu aku juga begitu melihat almarhum bapakku menjahit.

Ibu-ibu di sini baik-baik. Mereka tawari aku teh, kadang gorengan sisa sarapan, kadang cerita — tentang anak yang mau masuk SMP, tentang suami yang lembur terus, tentang harga cabai yang katanya naik lagi.

Aku dengarkan sambil menjahit. Tanganku sibuk, tapi telingaku kosong, siap diisi cerita siapa saja. Mungkin itu juga bagian dari jasaku yang tidak masuk hitungan ongkos.

Ada yang menawar. “Kok segitu Pak, mahal amat.” Aku tidak marah. Aku turunkan sedikit, karena aku tahu memendekkan celana tidak seberapa, dan yang lebih penting adalah dipanggil lagi minggu depan.

Rezeki tukang keliling bukan dari satu jahitan besar, tapi dari banyak jahitan kecil yang datang terus, seperti kayuhan sepeda — pelan, tapi tidak berhenti.

Siang aku teduh di bawah pohon, buka bekal nasi dari rumah, istri yang membungkus, masih hangat sedikit kalau aku makan tidak terlalu telat.

Mesin jahit di sampingku diam. Aku usap debunya, kuminyaki bagian yang mulai seret. Alat ini sudah delapan tahun ikut aku, lebih setia dari kebanyakan hal.

Sore aku pulang lewat cluster terakhir, Bu Ningsih melambai dari pagar, “Pak, besok mampir ya, ada gorden mau dijahit ulang.” Aku catat di kepala, tidak perlu buku, pelanggan tetap tersimpan sendiri di ingatan yang sudah terbiasa.

Orang kota bilang pekerjaanku kecil. Mungkin. Tapi setiap celana yang pas, setiap ritsleting yang kembali lancar, setiap ibu yang bilang “nah, gini baru enak dipakainya” — itu selesai. Beres di tanganku.

Di kota yang semuanya serba cepat dan serba mahal, aku cuma orang yang membereskan hal-hal kecil supaya pagi orang lain tidak berantakan.

Malam nanti sepeda kuparkir di teras, mesin jahit masuk ke dalam, badan capek, tapi ada yang lurus di dada — hari ini aku keliling, aku kerja, dan aku pulang membawa sesuatu selain lelah.

Sekar Wulandari

Ditulis berdasarkan percakapan dengan seorang penjahit keliling yang biasa menawarkan jasa vermak di kawasan perumahan BSD.

Aku bawa mesin jahit keliling kompleks, dan pekerjaanku sesederhana memendekkan celana orang.

— ditulis dari BSD, Tangerang Selatan

oleh Sekar Wulandari

← Semua puisi Lihat kutipan