kutipan tangerang — puisi & refleksi —

← kembali

Puisi

Jatiuwung, Kota Tangerang · 25 Juli 2026

Pemuda Ojek Pangkalan Jatiuwung — Bersaing dengan Ojol, Setia dengan Pangkalan

Aku masih muda, umurku belum kepala tiga, tapi tiap pagi aku mangkal di sudut jalan Jatiuwung tempat bapak-bapak lebih tua dariku sudah lama duduk lebih dulu.

Kata orang aku salah zaman. “Anak muda kok ojek pangkalan, mending narik online, tinggal buka aplikasi.” Aku cuma senyum. Tidak semua yang mudah cocok buat semua orang.

Pangkalanku kecil saja, sebuah plang seng miring bertuliskan cat yang mulai pudar, bangku panjang dari kayu bekas, dan pohon yang daunnya cukup untuk berteduh sebentar di siang yang panasnya juara.

Motorku bukan motor baru, kredit belum lunas benar, tapi mesinnya kupanaskan tiap subuh seperti kuda yang harus siap sebelum yang punya hajat datang.

Di seberang, di depan pabrik, anak-anak ojol berkumpul, jaket hijau, jaket oranye, mata menunduk ke layar, menunggu order masuk dari orang yang tidak mereka kenal.

Aku tidak benci mereka. Banyak yang dulu teman mainku, kami sama-sama besar di sini, sama-sama tahu rasanya uang tinggal receh di akhir bulan. Cuma jalan kami beda, dan tidak ada yang salah dengan itu.

Penumpangku bukan orang asing. Ada Bu Haji yang tiap Jumat minta diantar ke pasar, ada anak Pak RT yang kujemput dari sekolah, ada mbak-mbak buruh pabrik yang kalau telat shift langsung teriak dari ujung gang, “Bang, cepetan, keburu!”

Mereka tahu namaku, aku tahu rumah mereka. Ojol mungkin lebih murah, tapi ada yang tidak bisa dihitung aplikasi — rasa kenal, rasa percaya.

Di pangkalan kami punya aturan sendiri. Siapa datang lebih dulu, dia yang narik lebih dulu. Tidak ada yang menyerobot, tidak ada yang berebut penumpang sampai bertengkar di depan orang.

Kalau ada yang belum dapat seharian, yang sudah dapat gantian, “Udah, ini buat lu aja, gua udah tadi.” Rezeki di sini dibagi, bukan direbut. Itu yang bikin aku betah, walau isi dompet tidak selalu setebal harapan.

Siang kami nongkrong bareng, kopi sachet dari warung Mpok Ipah, sebatang rokok dibagi dua, cerita yang itu-itu saja tapi tidak pernah bosan didengar — soal harga bensin, soal anak yang mau masuk sekolah, soal mimpi yang belum kesampaian.

Pak Somad, yang paling tua, sering bilang ke aku, “Lu masih muda, Le, jangan lama-lama di sini. Sekolahin diri, cari yang lebih.” Aku iyakan, walau dalam hati aku tahu tempat ini sudah seperti rumah kedua.

Mimpiku tidak muluk-muluk. Aku mau motor ini lunas dulu, lalu punya satu lagi, kusewakan ke orang, biar ada masuk walau aku sakit.

Aku mau kalau nanti punya anak, dia tidak malu bilang bapaknya tukang ojek. Karena dari setang motor ini aku belajar hal yang tidak diajarkan di mana-mana: sabar menunggu, jujur menghitung ongkos, dan setia sama orang yang setia sama kita.

Sore turun pelan di langit Jatiuwung yang berdebu. Pabrik membunyikan sirine, buruh keluar berbondong, dan pangkalanku ramai sebentar sebelum sepi lagi saat malam benar-benar datang.

Aku hitung uang hari ini, lipat pelan di saku dalam. Tidak banyak, tapi halal, tapi cukup untuk pulang dengan kepala yang tidak menunduk.

Malam nanti aku parkir motor, tutup dengan terpal, tepuk sadelnya sekali seperti bilang terima kasih. Besok subuh aku kembali, duduk lagi di bangku kayu itu, menunggu, seperti biasa.

Zaman boleh berubah, aplikasi boleh menang, tapi selama masih ada yang memanggil namaku dari ujung gang, selama teman-teman pangkalan masih menyisakan tempat di bangku, aku akan tetap di sini — muda, keras kepala, dan tidak malu jadi tukang ojek pangkalan.

Sekar Wulandari

Ditulis berdasarkan percakapan dengan seorang pemuda tukang ojek pangkalan yang biasa mangkal di kawasan Jatiuwung, Kota Tangerang.

Aku muda tapi mangkal di pangkalan, di zaman semua orang tinggal buka aplikasi.

— ditulis dari Jatiuwung, Kota Tangerang

oleh Sekar Wulandari

← Semua puisi Lihat kutipan