kutipan tangerang — puisi & refleksi —

← kembali

Puisi

Curug · 20 Juli 2026

Embun Pagi Curug

Pukul lima empat puluh lima di kampung belakang Curug, embun masih tebal di rumput, sawah terakhir di kompleks itu masih basah, kabut tipis menggantung setinggi pinggang.

Pak Sumarno keluar dari rumah, sarung dilipat di pinggang, kopi hitam di tangan kirinya, sandal jepit basah karena embun, matanya menyapu sawahnya yang tinggal seperempat hektare dari yang dulu satu hektare.

Sisanya sudah dijual ke developer, sudah jadi gudang, sudah jadi pabrik, sudah jadi cluster baru yang namanya berbahasa Inggris.

Tapi pagi ini masih ada embun, masih ada kabut, masih ada burung pipit kecil yang turun mencari serangga, masih ada bau tanah basah yang Pak Sumarno kenal sejak umur tujuh tahun.

Ia minum kopinya pelan, duduk di bangku kayu di teras, melihat matahari muncul dari arah Pamulang, warna oranye perlahan meredupkan kabut.

Beberapa tahun lagi mungkin kabut ini tidak ada, mungkin sawah ini juga sudah dijual, mungkin Pak Sumarno juga sudah pindah ke rumah anaknya di Cikupa.

Tapi pagi ini ia masih punya semuanya — embun di rumput, kopi di gelas, dan kampung yang masih ingat bagaimana dingin sebelum panas industri menelannya.

Itu sudah cukup untuk satu sarapan yang tidak butuh dibicarakan.

Rumput basah, kabut tipis di sawah terakhir, dan kampung yang masih ingat dingin sebelum panas.

— ditulis dari Curug

oleh Sekar Wulandari

← Semua puisi Lihat kutipan