puisi & refleksi dari Tangerang
Kota ini layak ditulis,
bukan hanya dilalui.
Saya tulis tentang Tangerang bukan karena ia indah, tetapi karena ia jujur.
Setiap minggu satu tulisan: bisa puisi, bisa hanya satu kalimat. Lokasinya nyata — Cisadane, Pasar Lama, BSD, Karawaci, tol Jakarta-Merak. Tidak ada metafora yang berlebihan; tidak ada eksotisasi. Hanya catatan dari orang yang tinggal di sini cukup lama untuk tahu mana yang bohong dan mana yang asli.
11
TULISAN
6
PUISI
5
KUTIPAN
— pilihan terbaru —
Cisadane Sore Hari
Sungai yang lebih tua dari kota ini — yang sudah hafal kapan jembatan dibangun dan kapan dirobohkan lagi.
baca lengkap →
Puisi (6)
semua puisi →Cisadane Sore Hari
Sungai yang lebih tua dari kota ini — yang sudah hafal kapan jembatan dibangun dan kapan dirobohkan lagi.
Tol Jakarta-Merak, Hari Senin
Empat puluh kilometer yang ditempuh dalam tiga jam, dan kami semua memilih diam.
Karawaci, Pukul Tiga Pagi
Kota yang tidak pernah tidur, tetapi pukul tiga pagi terlihat seperti foto yang dibekukan.
Hujan di Gading Serpong
Hujan datang, mall yang biasa lengang tiba-tiba penuh — kota yang ternyata selalu butuh atap.
Pasar Lama Tangerang
Klenteng Boen Tek Bio, Cina Benteng, dan kota yang lahir tiga ratus tahun sebelum BSD.
BSD Malam Minggu
Kafe di BSD, pemuda yang ngobrol tentang startup di Jakarta, dan mimpi yang ngantri di tol.
Kutipan (5)
semua kutipan →Bukan Pusat Satu-satunya
Yang menulis sejarah kota ini bukan hanya gedung di Jakarta.
Cisadane Mengajari Sabar
Sungai tidak pernah terburu-buru, tetapi selalu sampai.
Demokrasi di Tol Merak
Semua sama-sama miskin waktu — satu-satunya bentuk demokrasi yang masih tersisa.
BSD dan Karawaci
BSD adalah etalase. Karawaci adalah lemari.
Mulai dari Pasar Lama
Yang ingin tahu kota ini, mulailah dari Pasar Lama — bukan dari mall.