Pamulang · 8 Juni 2026
Baliho Rusak di Pamulang
Di perempatan Pamulang Permai, baliho caleg itu sudah sobek separuh, hanya tinggal mata kiri dan setengah dasi.
Angin pesisir Banten mengoyaknya pelan selama enam bulan, tidak ada yang datang menjahit, tidak ada yang datang mencabut, tiang bambunya tetap berdiri seperti tugu kekalahan kecil.
Ibu-ibu yang lewat tidak lagi membacanya, mereka sudah lupa namanya, mereka sudah lupa partainya, mereka hanya ingat bahwa pernah ada orang yang berjanji jalan ini diaspal.
Anak-anak SD pulang sekolah melempar batu kecil ke baliho itu, bukan karena marah, bukan karena tahu apa-apa, hanya karena targetnya cukup tinggi dan ada di pinggir jalan.
Pamulang sore itu panas seperti biasa, debu naik dari motor-motor, dan baliho rusak itu masih bergoyang pelan — satu-satunya yang setia adalah angin yang melupakannya dengan sangat sopan.
Wajah yang sobek karena angin, dan janji yang sobek karena tidak ada yang menjaganya.
— ditulis dari Pamulang
oleh Sekar Wulandari