kutipan tangerang — puisi & refleksi —

← kembali

Puisi

Tangerang Selatan · 21 Juni 2026

Anak Rantau Tangsel

Minggu sore, kamarnya di Ciputat bau deterjen yang belum kering sempurna dan satu bungkus Indomie sisa di rak lemari — cadangan kalau malam ini tidak keluar.

Rini menelepon ibunya.

“Di sini panas juga, Bu, mirip Palembang kalau sore-sore.”

Ibunya bilang syukurlah, setidaknya tidak kedinginan.

Padahal yang Rini maksud berbeda — bukan soal suhu, tapi soal cara angin datang pelan dari arah Bintaro, membawa bau tanah basah setelah hujan, yang entah kenapa terasa familiar seperti sore-sore dulu di Plaju sebelum bapak pulang kerja.

Foto keluarga di wallpaper HP-nya sudah hampir setahun tidak diganti. Lebaran tahun lalu, semua berkumpul di Palembang, warna baju serasi, Rini yang paling kanan, senyum yang terlalu dipaksakan karena besoknya harus balik ke BSD.

Empat tahun.

Empat tahun cukup lama untuk hafal jalan pintas ke Pasar Ciputat, untuk tahu warung nasi mana yang masakannya paling mirip Palembang — tidak sama, tapi cukup, dan cukup sudah lama terasa seperti cukup.

Empat tahun cukup lama untuk berhenti menyebut ini sementara.

Ibunya bertanya kapan pulang.

Rini bilang Lebaran, seperti biasa, seperti jawaban yang sudah jadi refleks lebih dari rencana.

Setelah telepon ditutup dia rebahan di kasur, menatap plafon kamar kos yang sudah dia kenal setiap retaknya,

dan berpikir: kalau hari ini dia harus pindah balik ke Palembang, apa yang akan dia rindukan dari sini?

Jawabannya datang terlalu cepat dan terlalu banyak.

Itu yang membuatnya diam lebih lama dari biasanya, sebelum akhirnya bangun, merebus air, merobek bungkus Indomie terakhir di lemari,

dan memutuskan untuk tidak memikirkannya malam ini.

Empat tahun cukup lama untuk berhenti menyebut ini sementara.

— ditulis dari Tangerang Selatan

oleh Sekar Wulandari

← Semua puisi Lihat kutipan