kutipan tangerang — puisi & refleksi —

← kembali

Puisi

Tangerang - Jakarta · 2 Juli 2026

Sopir Bus Transjabodetabek Shift Pagi — Sebelum Kota Bangun

Pukul empat lewat sedikit alarm belum bunyi tapi mata sudah tahu ini waktunya. Sebelas tahun begini, tubuh punya jam sendiri yang tidak butuh dicolok ke listrik.

Kopi setengah gelas, sisanya untuk nanti kalau ngantuk di lampu merah. Istri masih tidur, anak masih tidur, kota juga masih tidur — hanya aku dan beberapa orang lain yang sudah memutuskan bahwa pagi dimulai sebelum ada terang.

Bus keluar dari pool saat langit masih warna tinta yang mulai encer. Lampu-lampu jalan belum tahu kapan harus mati. Aku hafal setiap tikungan sampai ke lubang yang tidak pernah ditambal di dekat jembatan itu — aku belok pelan tanpa mikir, seperti napas.

Halte pertama masih sepi. Satu orang, jaket dirapatkan, tangan menggenggam gelas kopi sachet yang uapnya naik ke lampu halte. Dia naik, mengangguk sedikit, duduk di deretan belakang, langsung tidur.

Aku kenal wajah begitu. Wajah orang yang tidurnya dititipkan ke dalam perjalanan karena di rumah tidak sempat.

Halte berikutnya mulai ramai. Ibu-ibu bawa rantang, mahasiswa dengan ransel yang terlalu berat, anak muda yang matanya masih di layar HP, satpam yang shift-nya baru selesai dan pulang saat aku baru berangkat — kami berpapasan setiap pagi tanpa pernah bicara, dua orang di ujung waktu yang berlawanan.

Tol mulai padat sebelum matahari betul-betul naik. Aku tahu titik ini akan berhenti. Aku selalu tahu. Bukan dari aplikasi, tapi dari kebiasaan yang lebih tua dari aplikasi mana pun.

Di depan lampu rem menyala berbaris, merah panjang sampai ke tanjakan. Aku turunkan gigi, turunkan juga sedikit harapan bahwa hari ini bisa lebih cepat.

Di kaca spion aku lihat mereka: yang tidur, yang melamun, yang berdandan buru-buru, yang menelepon pelan “iya Bu, aku udah di jalan, sabar ya.”

Aku antar bukan cuma badan mereka. Aku antar juga segala yang mereka bawa pagi ini — tagihan, rapat, wawancara kerja, janji ketemu yang tidak boleh telat. Bus ini penuh dengan hal-hal yang tidak kelihatan.

Kadang ada yang marah kalau lama. Aku diam saja. Bukan karena tidak peduli, tapi karena aku tahu kemacetan ini bukan milik siapa-siapa, dan marah kepada sopir hanyalah cara paling dekat untuk marah kepada pagi yang memang keras kepala.

Matahari akhirnya naik di antara gedung-gedung Jakarta yang kacanya memantulkan silau sampai ke mataku. Aku turunkan visor, pelankan laju di pintu keluar, buka pintu bus, dan satu per satu mereka turun — kembali menjadi orang asing yang tadi kupinjami sedikit waktu.

Ada yang bilang terima kasih. Kebanyakan tidak. Tidak apa-apa. Aku tidak kerja untuk diucapi terima kasih. Aku kerja supaya di rumah nanti ada yang bisa kubawa pulang selain lelah.

Bus kosong lagi. Aku putar balik, menjemput pagi yang sama dari sisi yang berbeda. Nanti siang aku istirahat, sore aku pulang, subuh besok aku begini lagi.

Orang bilang hidupku muter-muter, sama seperti rutenya.

Mungkin. Tapi setiap kali aku antar orang sampai ke tempat mereka harus sampai, ada sesuatu yang terasa lurus — seolah di antara semua yang macet dan berputar, ada satu hal kecil yang berhasil kuselesaikan pagi ini.

Sekar Wulandari

Ditulis berdasarkan percakapan dengan sopir bus rute Tangerang–Jakarta yang mengambil shift pagi.

Aku sudah di jalan sebelum kota ini memutuskan untuk bangun.

— ditulis dari Tangerang - Jakarta

oleh Sekar Wulandari

← Semua puisi Lihat kutipan