Puisi
Tol Jakarta-Merak · 27 Mei 2026
Tol Jakarta-Merak, Hari Senin
Jam enam pagi, tiga jalur penuh, empat puluh kilometer ke depan hanya lampu rem yang menyala.
Di mobil sebelah, seorang ibu mendandani anaknya sambil setir tetap di tangan. Di mobil belakang, seseorang menyanyi sendiri karena radio mati.
Kami semua menuju Jakarta, karena Jakarta yang menggaji. Kami semua tinggal di Tangerang, karena Jakarta tidak terjangkau.
Tiga jam berlalu, tol berhenti di kilometer dua belas, dan kami sama-sama miskin waktu — itulah satu-satunya bentuk demokrasi yang masih tersisa.
Empat puluh kilometer yang ditempuh dalam tiga jam, dan kami semua memilih diam.
— ditulis dari Tol Jakarta-Merak