Summarecon Serpong · 9 Juli 2026
Lembur Summarecon Lantai 18
Pukul sebelas malam, lantai 18 gedung di Summarecon, hanya empat orang yang tersisa, saya, dua junior, dan office boy yang menunggu kami pulang sebelum dia bisa pulang juga.
Cangkir kopi instan sudah tiga kali diisi, asam lambung saya naik, tapi laporan kuartalan masih harus rapi sebelum subuh.
Saya berdiri sebentar, berjalan ke jendela, melihat ke arah BSD, melihat ke arah Alam Sutera, melihat lampu-lampu cluster yang mulai padam satu per satu.
Yang masih nyala biasanya adalah rumah yang seseorang di dalamnya juga sedang lembur seperti saya, atau menunggu suami pulang yang sedang lembur seperti saya, atau menangis pelan karena hari ini terasa kosong seperti saya juga, sebenarnya.
Saya tidak bilang ke siapa pun soal yang terakhir.
Saya kembali ke meja, membuka Excel, melanjutkan kolom yang belum diisi, sambil terus berpikir bahwa kerja keras seharusnya membawa ke suatu tempat yang lebih dekat dengan rumah, bukan lebih jauh.
Pukul satu pagi saya pulang ke Pamulang, tol sudah sepi, dan saya tidak tahu apakah saya sedang menang atau sedang kalah.
Mungkin keduanya, dengan pembagian yang berubah-ubah tergantung lagu yang dimainkan di radio mobil.
Pukul sebelas malam, lampu kantor masih nyala, dan kota di bawahnya sudah pulang lebih dulu.
— ditulis dari Summarecon Serpong
oleh Sekar Wulandari