Tigaraksa · 22 Juni 2026
Tukang Becak Tigaraksa
Di seberang Pasar Tigaraksa, Pak Maman menunggu di becaknya, becak yang sudah lebih tua dari dua anak laki-lakinya yang sekarang sopir truk ke Pelabuhan Merak.
Catnya merah pudar, kain penutup kursinya sobek di tepi, tapi besinya kokoh, roda-rodanya masih bulat, seperti pemiliknya yang juga masih kokoh walaupun sudah enam puluh tiga.
Sekarang penumpangnya hanya ibu-ibu yang baru belanja, membawa kantong kresek hijau penuh ikan, yang tidak nyaman naik motor, yang tidak ingin tasnya disambar dari belakang oleh ojol baru di kompleks.
Pak Maman tahu jalan Tigaraksa lebih hapal dari Google Maps, tahu gang mana yang macet jam berapa, tahu rumah Bu Nani belok di mana, tahu di mana sumur tua yang kalau hujan deras membuat jalan banjir lima jam.
Tapi anak muda tidak butuh ini lagi, mereka butuh aplikasi, butuh tarif yang diatur algoritma, butuh driver yang asing karena keasingan terasa lebih aman daripada keakraban.
Saya berhenti sebentar, beli air mineral di warung sebelah, melihat Pak Maman tertidur sebentar di bawah pohon mangga.
Mungkin profesinya akan habis bersama generasinya, tapi sore itu dia masih menua dengan sopan — tidak protes, tidak demo, hanya menunggu penumpang yang mungkin datang, mungkin tidak.
Becak yang masih bertahan di antara ojol, dan profesi yang menua dengan sopan.
— ditulis dari Tigaraksa
oleh Sekar Wulandari