Cisadane · 15 Juli 2026
Freelance Laptop di Cisadane
Sebuah kafe baru di pinggir Cisadane, dekat jembatan ke Karawaci, WiFi-nya tiga garis kalau sore, satu garis kalau hujan, tapi pemandangannya bagus dan kopinya 25 ribu.
Saya bekerja di sini sejak pagi, membuka VS Code, membuka Figma, membuka Slack dengan tim yang separuhnya di Eropa, separuhnya di Amerika, tidak ada yang tahu Cisadane, tidak ada yang tahu Tangerang.
Mereka membayar dollar, dikonversi ke rupiah lewat Wise, masuk ke rekening BCA saya, yang saya pakai untuk membayar sewa kos di Karawaci, makan siang di warteg seberang kos, dan sesekali kopi di kafe ini yang harganya untuk klien saya tidak lebih dari recehan.
Tapi saya tetap suka di sini, bukan karena prestige, bukan karena pemandangan Instagram, karena Cisadane di samping saya mengalir pelan, tidak peduli pada deadline, tidak peduli pada code review, tidak peduli pada sprint planning yang sebentar lagi di Zoom.
Saya tutup laptop sebentar saat azan magrib dari masjid Karawaci, sungai berwarna oranye sebentar, lalu coklat lagi, lalu hitam, dan kafe menyalakan lampu.
Mungkin kerja remote bukan tentang bebas, bukan tentang fleksibel — tapi tentang menemukan tempat yang lebih besar dari pekerjaan itu sendiri, yang mengingatkan bahwa kita masih ada di luar layar.
Cisadane mengingatkan saya setiap sore.
Kafe pinggir sungai, WiFi tiga garis, dan klien yang membayar dalam mata uang lain.
— ditulis dari Cisadane
oleh Sekar Wulandari